Alhamdulillah bulan puasa sudah kita lewati, mudah-mudahan puasa kita di nilai Ibadah oleh Allah SWT. Setelah memnyelesaikan ibadah puasa sebulan penuh, kita selanjutnya memasuki bulan Syawah, dan merupakan kemenangan bagi umat islam yang sudah menjalankan ibadah puasa dan di sempurnakan dengan Shalat Taraweh.
Dalam bulah yang firi ini kami atas nama pengurus RW 11 Bumi Sawangan Indah mengucapkan "Selamat Hari Raya Idul Fitri, Minal Aidin wal Faidzin mohon maaf lahir dan batin" Semoga di dalam bulan Syawal ini Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita semua. Amien Ya Robbal ,alamin.
Salam Pengurus RW 11-BSI
Selengkapnya...
Selasa, 06 September 2011
Minal Aidin Wal Faidzin
Sabtu, 20 Agustus 2011
Jalan Abdul Fatah
Alhamdulillah Jalan Abdul Fatah bertambah panjang.
Dengan semakin mulusnya jalan memang membuat perekonomian akan semakin lancar.
Namun jika tidak di dukung oleh pemeliharaan niscaya yang mulus akan kembali berlobang.
Disini diperlukan kearifan para pemimpin untuk membuat kesepakatan agar nantinya tidak salah perspepsi dan saling claim siapa yan paling berjasa.
Limbuk berharap dengan jalan mulus lingkungan semakin tertib dan nyaman bukan malah sebaliknya.Karena dimasa mendatang akan semakin komplek permasalah yang timbul dengan adanya jalan yang mulus.
Jangan sampai upaya dan perjuangan para pemimpin lingkungan dan warga menjadi sia-sia.
Perlu didukung pula adanya rambu-rambu untuk setiap persimpangan, dan kesepakatan pembuatan polisi tidur/ kejut.Dimana akan membuat semua nyaman. Belajar dari pengalaman yang ada.Jangan sampai menimbulkan permasalah.
Perlu diingat juga disampaing jalan yang baik akan menimbulkan dampak negatif juga yaitu KEAMANAN.Karena dengan adanya jalan yang mulus tentu saja kecepatan penguna jalan perlu diperhatikan demi keselamatan bersama.Jangan sampai menunggu korba baru bertindak.
Faktor keselamatan dan keamanan untuk warga adalah paling utama.Oleh kerena itu dibutuhkan kearifan dan kebijakan dari para pemimpin di masing-masing lingkungan.Dan yang terpenting adalah sosialisasi di masing-masing lingkungan yang berupa perawatan, keselamatan dan keamanan juga ketemtraman warga.
Semakin berkembangnya jalan Abdul Fatah tidak bisa di tunda lagi bahwa perkembangan keluar-masuknya kendaraan juga akan bertambah.
Limbuk berharap agar para pemimpin dapat membuat kesepatan yang telah Limbuk usulkan diatas secara bersama dan di bakukan agar tidak ada kesalah pahaman.
Untuk kendaraan yang melebihi tonase harap juga di buat kesepakatan tersendiri.
salam
Limbuk
Selengkapnya...
Senin, 15 Agustus 2011
Merdeka tanpa bendera
Hari merdeka tanpa kemeriahan, walau hanya sekedar mengibarkan bendera.
Apa emang udah ndak jaman atau emang udah ndak peduli?
Emang bener bendera hanya simbol namun simbol yang di perjuangkan dengan darah dan air mata bahkan nyawa.Tapi apa kenyataannya? di lingkungan RW 11 merdeka tanpa simbol.
Tidakkah para pejabat lingkungan tidak peduli atau menunggu kesadaran dari para waraga?
Duh.. gustii kok kebangetan bener jika hal tersebut terjadi.
Padahal masyarakat masih butuh contoh. banyak hal yang menjadi bukti. bahwa warga belum sepenuhnya mandiri, walaupun banyak warga yang pinter.... ndak ketulungan. namun kesadaran akan lingkungan masih dipertanyakan .
Kesadaran akan kemerdekaan untuk menjaga lingkungan terdekat agar guyup, rukun dan aman.Apakah kita lupa akan lingkungan yang sedikit banyak memberikan sumbangan secara sengaja atau tidak kepada prilaku anak bangsa, dan diri sendiri?
Apakah warga dan pengurus RW 11 merasa sudah tidak menjadi bagian dari warga Depok dan bangsa ini? atau udah furstasi atas keadaan?
Janganlah kita memikirkan terlampau jauh kan nasib bangsa!!! namun yang terpenting adalah nasib lingkungan dimana kita tinggal.Dimana ada anak dan istri kita yang setiap saat kita bekerja bersosialisai dengan tetangga dan lingkungan.
Merdeka memang bukan untuk berfoya namun,dengan cara mengibarkan bendera kita akan memberi contoh kepada generasi kita.Apa yang kita lakukan adalah pelajaran dan contoh nyata bagi anak kita.
Buat para pejabat linngkungan Limbuk hanya berharap untuk setiap tanggal 17 Agustus ada surat edaran untuk mengibarkan bendera, sebagai penghargaan kita kepada pejuang.Mungkin kakek bahkan orang tua kita ikut berjuang demi MERAH-PUTIH
Salam
Limbuk
Selengkapnya...
Kamis, 11 Agustus 2011
HUT RI SEPI
17 Agustus tinggal beberapa hari lagi,kok ya.. sepi nyenyet ya...
Apa karena bulan puasa? wah.. kalau gitu MERDEKAnya ya.. puasa juga...
Padahal saat merdeka waktu ya.. pa Puasa...duch....melas bener negeri ini.
Kalau mau ada cara malah pas.. yaitu adakan renungan serambi saur bersama.
Dengan acara kajian bagaimana menang secara lahir batin, menuju kemenangan terhadap hawa nafsu, kemenangan dalam mengisi kemerdekaan.Dengan begitu kita akan tahu makna "MERDEKA".Dalam renungan itu juga mengajak warag untuk jangan hanya bicara tapi bertindak.
Momen 17 juga dapat di jadikan ajang silaturahmi buat warga dengan ceramah atau baca puisi tentang makna kemerdekaan , juga mengajari anak-anak kita bahwa merayakan kemenangan tidak harus pesta.Tapi bisa dengan merenung, berdo'a atau lebih sipnya bagi-bagi sembako murah buat masyarakat sdi sekitar BSI.
Disamping mendapat pahala juga untuk mempererat persaudaraan dengan warga sekitar,apa lagi ada pengobatan gratis.Weh.. mulia banget...
Kenapa para pejabat tidak peka? malah mengatas namakan bulan suci untuk tidak berbuat malah memilih DIAM.
Padahal di bulan mulia ini dan hari kemerdekaan banyak sekali yang dapat kita perbuat ketimbang "DIAM"
Lebih baik sedikit bertidak ketimbang memikirkan "buka puasa" dan saur pakai apa? padahal di sekitar lingkungan RW 11 banyak yang membutuhkan.
Ini merupakan tantangan buat pejabat lingkungan untuk berbuat.
salam
Limbuk
Selengkapnya...
Jumat, 22 Juli 2011
E-KTP GRATIS tapi kok bayar.... ya
Program dari pemerintah untuk akurasi kependudukan sudah di mulai.
Tapi Kapan ya. ada sosialisasi di BSI ? menurut pak RT.. ada biaya kira-kira Rp. 25.000,- nah lo...(itu info dari kelurahan ) padahal semua itu gratis....ini terjadi juga di panggulan weh.. weh...di pangulan ada yang kena Rp.60.0000,- piye.. iki....
Nah kalau udah begini.. mohon bertindak cepat pak RT dan RW...Untuk pak Admin mohon dong...di info kepak RW.
Berikut Limbuk berikan cuplikan berita tentang biaya e-KTP GRATIS.
(Maaf pak Admin Limbuk Lancang)
dan untuk laporan jika dan kutipan ke :Jubir Kemdagri Reydonnyzar Moenek di Kantornya, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat
INILAH.COM, Bandung - Sebanyak 11 kabupaten/kota di Jabar siap meluncurkan kartu tanda penduduk elektronik (e-ktp).
Ke-11 daerah yang akan memberikan e-KTP kepada penduduk yang telah berusia 17 tahun atau sudah menikah tersebut, adalah Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Garut, Kota Cimahi, Kabupaten Sumedang, Kota Sukabumi, Kota Depok, dan Kota Bekasi.
Kepala Biro Pemerintahan Umum Pemprov Jabar Rohman Hidayat menjelaskan ada 11 dari 26 kota/kabupaten di Jabar yang dinyatakan siap melaksanakan program e-KTP pada tahun ini. Sementara sisanya dipastikan selesai pada tahun 2012.
"Soal pengadaannya akan ada dukungan dari APBN. Soalnya, jika dilaksanakan oleh kota kabupaten sendiri akan berat," kata Rohman saat ditemui wartawan di sela-sela acara Sosialisasi Penerapan e-KTP se-Provinsi Jawa Barat di Hotel Horison Jalan Pelajar Pejuang, Selasa (19/4/2011).
Menurut Rohman, e-KTP memiliki banyak manfaat, terutama untuk dokumen pembangunan. Namun karena jumlah penduduk yang cukup banyak disertai perlunya sosialisasi, maka membutuhkan waktu yang cukup panjang.
"Saat ini datanya belum valid terkait berapa jumlah wajib e-KTP sekarang, makanya kami sedang data ulang. Mudah-mudahan hari ini sudah ada data validnya," tandasnya.
Rohman menjamin jika pengadaan e-KTP ini akan tetap gratis, termasuk di 15 daerah yang menggunakan e-KTP pada 2012. "Kami inginkan gratis. Yang menyusul juga gratis. Tujuan dan maksudnya sangat jelas karena ada sidik jari juga," tuturnya.
Terkait peralatannya, lanjut Rohman, saat ini dalam proses lelang. Targetnya selesai pada bulan Agustus ini dan dimulai pada September. "Operatornya nanti di pemkab dan pemkot setempat. Layanannya ada di dinas kependudukan dan catatan sipil, tetapi yang berhubungan langsung dengan masyarakat berada di kecamatan," tandasnya. [jul]
Salam
Limbuk
Selengkapnya...
Rabu, 13 Juli 2011
Semar, abdi titisan Ilahi
Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul
Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia
Filosofi, Biologis Semar
Javanologi :
Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun).
Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang.
Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tunggal”.
Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta sekaligus simbul keilmuan yang netral namun simpatik”.
Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa.
Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahas a jawa kuno)
maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.
Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.
Semar berjalan menghadap keatas,
maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq) yang maha pengasih serta penyayang umat”.
Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.
ciri sosok semar adalah
Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
Semar tertawanya selalu diakhiri nada tangisan
Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya
Tulisan diatas adalah semata-mata hanya filosofi yang mungkin dapat berguna bagi kehidupan.Suwun
Salam
Limbuk
Selengkapnya...
Rabu, 29 Juni 2011
Makna Hidup
Dari ceu. ening...urang bojong loa
Makna Huruf Jawa pada Kata “Hurip” dan “Gessang”
Sepanjang sejarah kesusasteraan Jawa, telah dikenal berbagai tulisan asli yang antara lain adala htulisan Jawa yang merupakan unsur penting dari kebudayaan Jawa itu sendiri.
Tersebut suatu legenda yang menceriterakan kisah Pangeran Ajisaka yang rupa-rupanya bermula sebagai sebuah ceritera untuk menerangkan artinya dari kalimat yang muncul dari susunan abjad Jawa yang terdiri dari dua puluh huruf dengan artinya sebagai berikut:
Ha na ca ra ka : ada dua orang utusan
Da ta sa wa la : saling bertengkar
Pa dha ja ya nya : sama-sama kuat
Ma ga ba tha nga : kedua-duanya mati.
Masyarakat umum menganggap bahwa Ajisaka yang menciptakan huruf Jawa. Sementara para ahli menyatakan bahwa tulisan Jawa berasal dari suatu bentuk tulisan Sankerta Dewanagari dari India Selatan.
Dalam perkembangannya orang Jawa sudah banyak menggunakan huruf Latin dari pada huruf Jawa, namun di beberapa tempat masih ditemui tulisan yang menggunakan huruf Jawa. Bahkan oleh beberapa orang dinyatakan bahwa huruf Jawa memiliki falsafah atau makna bagi kehidupan manusia. Sebagai contoh:
Huruf ha diberi makna hidup: na berarti ada. Jadi ha na berarti adanya hidup, ca ra ka diartikan sebagai cipta rasa karsa: caraka berarti juga utusan atau duta.
Dengan demikian makna hana caraka adalah adanya hidup diciptakan oleh Tuhan yang diutus untuk memelihara alam lingkungan dengan berpedoman pada tuntunan-Nya sehingga manusia tidak banyak berbuat salah.
Huruf da berati Dhat: ta berarti tan (tanpa) sa wa la berarti salah. Jadi Da ta sawala berarti petunjuk yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa tidak pernah salah.
Huruf pa dha ja ya nya mengandung makna penggambaran diri manusia yang mana hati nuraninya tergoda oleh nafsu, maka sering timbul pertentangan di dalam dirinya. Oleh karena itu manusia diajarkan untul selalu memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa agar senantiasa berada dalam kebenaran.
Huruf ma ga ba tha nga; ma dan ga berarti sukama dan angga yang hidup dan berbudaya untuk mewujudkan tindak yang baik. Akhirnya ma, ga akan menjadi ba tha nga, yaitu mati apabila tugas sebagai caraka (utusan) telah selesai atau telah dikehendaki oleh Tuhan kembali (meninggal dunia). Demikian antara lain pengungkapan makna huruf Jawa ha na ca ra ka, da ta sa wa la, pa dha ja ya nya, ma ga ba tha nga.
Dalam kehidupan berbudaya ada beberapa orang yang dalam menghayati makna hidup dan kehidupannya menggunakan huruf Jawa sebagai alat untuk dapat memahami makna hidup tersebut. Seseorang sadar sepenuhnya bahwa di dalam dirinya diberi hidup sehingga dia berusaha memahami apa makna hidup itu. Berikut akan diungkap makna hidup dengan menggunakan uraian dari kata yang berhuruf Jawa.
Penjelasannya sebagai berikut: Yang disebut hidup itu terdiri dari dua jenis, yaitu yang disebut hurip dan gesang. Kata “urip” dalam huruf Jawa terdiri dari ha; berasal dari sebutan ma ha (maha) suku (u) mengandung makna tenaga, ra: berasal dari sebutan ha ra (getaran) wulu (i) mengandung maksud bahwa huruf yang di dulu adalah positif pa: mengandung maksud meliputi apa saja karena berasal dari sebutan apa-apa (apa) pangku (tanda huruf mati) mengandung maksud kebahagiaan hu: berasal dari sebutan satuhu 9suatu sifat nyata) rip: berasal dari sesebutan mirip (serupa). Kata “hurip” sebelum diberikan sandangan akan tertulis ha ra pa yang artinya hadap dan kehendak (nafsu).
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa yang disebut “hurip” (hidup) adalah Maha Tenaga yang bergetar, yang memiliki kebahagiaan seperti mulia dan kebiasaan yang bermacam-macam serta mempunyai kehendak. Adapun sifat hidup adalah getaran-getaran yang memenuhi dan meliputi alam semesta yang kesemuanya berujud mirip antara yang satu dengan lain. Getaran itu disebut “hara”. Sebutan nama tersebut berasal dari adanya pengetahuan suatu gerak yang sangat cepat dan hanya bisa ditirukan oleh gerakan lidah, sehingga akan keluar bunyi dari mulut: “rrrraaaaa”. Karena hal tersebut bersifat maha, maka sebutan maha dan ra dijadikan satu sebutan “mahara” yang disingkat “hara”. Hara memiliki kebiasaan, maka sebutan “hara” dan “bisa” disatukan menjadi “harabisa”, yang kemudian disingkat “rasa”, karena sebutan “rasa” berasal dari sebutan “hurip”, maka rasa adalah hurip yang memiliki hadap kehendak kebiasaan kebahagiaan yang semuanya bersifat nyata serupa/mirip.
Berikut makna hidup dari apa yang disebut dengan gessang. Kata “gessang” dalam huruf Jawa terdiri dari: ga: berasal dari sebuta ra ga (raga/sifat berwujud) pepet (e) mengandung maksud perasaan/rasa kulit. Sa: berasal dari sebutan ra sa (rasa) pangku (tanda huruf mati): mengandung maksud sanga (sembilan) sa: berasal dari sebutan ra sa (rasa) setcak (tanda bunyi sengau) mengandung maksud sanga (sembilan). Ges: berasal dari sebutan teges (arti). Sang: berasal dari sebutan tumangsang (terkait) kata “gesang” sebelum mendapatkan sandangan tertulis ga sa sa nga, yang berasal dari sebutan gagasa (gagasan(, sanga (sembilan) maksudnya gagasa atau pikir itu terkait oleh sembilan rasa. Dari penjelasan tersebut disimpulkan bahwa yang disebut “gessang” adalah hidup yang memiliki raga, mengandung sembilan rasa positif dan rasa kulit yang mengikat pikir.
Sembilan rasa tersebut:
2 rasa pengelihatan kanan dan kiri
2 rasa pendengaran kanan dan kiri
2 rasa pembauan kanan dan kiri
1 rasa lidah
1 rasa dubur dan 1 rasa kelamin.
Sembilan rasa tersebut masing-masing mengikat gagasan/pikir. Hidup yang berwujud demikian berada di atas permukaan bumi dan harus mempunyai arti atau berguna.
Hidup yang disebut dengan “gessang” ini berasal dari “hurip” yang masing-masing memiliki tenaga hadap dan kehendak. Demikian makna hidup yang dijelaskan melalui kata “hurip” dan “gessang”.
Sebutan “hidup” erat sekali hubungannya dengan sebutan yang Maha Hidup. Untuk memberikan pengertian Yang Maha Hidup, dijelaskan dengan menggunakan kata “halah” dalam huruf Jawa sebagai berikut:
Ha: berasal dari sebutan ma-ha (maha). Suara Ha adalah suara bernafas yang menunukkan hidup. Maka ha mengandung maksud “Yang Maha Hidup”.
Ia: berasal dari sebutan hala (kasar).
Wignyan (huruf mati): mengandung maksud sebagian dari Yang Maha.
Lah: berasal dari sebutan oleh dan polah (memasak dan bergerak).
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa yang disebut “Halah” (Alah) adalah Yang Maha Hidup, yaitu yang memasak atau mengadakan segala sesuatu mulai dari tidak ada menjadi ada, dari sifat yang terhalus menjadi sifat yang terkasar yang semuanya itu digerakkan atau dihidupi. Adapun dijadikannya sifat-sifat kasar atau berwujud itu hanya sebagian dari sifat ke-MahaanNya.
Demikian makna dari kata berhuruf Jawa “hurip” dan “gessang” yang mengandung arti hidup, yang ternyata di dalamnya terkandung makna yang dalam dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Jangan pernah melihat apa yang dibicarakan atau ditulis orang.
Dan jangan merasa " Bersih" sebaliknya orang yang menurut kita " kotor" itulah bersih
Salam
Limbuk
Selengkapnya...